<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Jul 12, 2007
Gemar menyakiti

Click for more pictures

Salah satu berita hasil tampilan Metro TV tertanggal 11 Juli 2007 adalah liputan mengenai restoran di Taiwan yang menyediakan hidangan ikan goreng yang masih hidup. Ikan berukuran besar (entah jenis ikan apa) di masukkan ke dalam penggorengan dengan minyak menggelegak hanya dari bagian ekor hingga pangkal leher sementara bagian kepala dilindungi agar tidak ikut tergoreng. Kemudian ikan tersebut disiapkan dalam nampan dan dilumuri saus bersama berbagai jenis sayuran pelengkap. Tanpa menggoreng bagian kepala membuat ikan masih dapat hidup selama kurang dari 30 menit dan bergerak-gerak sementara bagian tubuhnya yang sudah matang disantap dengan gembiranya oleh pelanggan restauran.

Membayangkan perasaan si ikan yang hanya bisa menggeleparkan kepala saat tubuhnya digoreng dan dicuili dengan sumpit beramai-ramai, menderitakan rasa sakit sampai menemui ajal. Aduh, rasanya tidak sanggup mencernanya dengan kepala dingin. Mungkin alasan itu pula yang mendorong para koki di Taiwan menolak memasak masakan serupa, terlalu kejam.

Fenomena ini pastinya dianggap kecil dan abai, toh itu hanya persoalan ikan yang memang kodratnya dimakan oleh manusia. Apapun caranya toh mereka akan mati dalam penggorengan juga. Namun satu hal yang perlu di garis bawahi adalah maraknya kegemaran menyakiti yang tumbuh dalam masyarakat saat ini. Keinginan mencari kegiatan unik telah menciptakan gaya hidup tersendiri yang umumnya tidak lagi melalui alur yang lumrah. Menikmati kekejaman yang awalnya hanya diwujudkan dalam hal-hal kecil tentu saja dapat berkembang dengan  cepat menjadi kerusakan dan kekejaman dalam skala yang besar, sebab bibitnya tetap sama yaitu berada di dalam akal dan hati manusia juga.

Sementara penyebaran informasi negatif ditunjang dengan maraknya media massa yang membombardir hari-hari kita dengan berita-berita aneh berulang-ulang. Hal-hal yang tadinya tidak pernah terbayangkan ternyata pernah terjadi di belahan bumi lainnya, sehingga ketika hal serupa terjadi pada lingkungan sendiri dengan mudah akan dianggap normal dan biasa.

Kemudian menjadi bingung bagaimana harus bereaksi melihat keanehan jika keanehan itu sendiri diberdayakan sedemikian rupa menjadi budaya baru?


Posted at 10:02 am by Qeong-Ungu
Make a comment  

Negeri entah berantah itu masih ada

Click for more pictures

Desa Curup adalah tempat tinggal ibu Siti Aisyah. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu 2 jam berkendara dari kota Bogor menuju Kecamatan Cilandak, kemudian berjalan kaki selama 3 jam dari Cilandak ke desa Curup. jika hari cukup cerah itu artinya masih ada kesempatan untuk mencari angkutan berupa ojek dengan harga 50 ribu rupiah, sehingga perjalanan yang harus di tempuh dengan jalan kaki selama 3 jam bisa dipersingkat menjadi hanya 2 jam. Namun jika hari hujan desa ini hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki, menumpang pada gerobak sapi yang kebetulan lewat, atau sarana manual lainnya.
 

Dulunya, aku percaya bahwa mata uang 25 rupiah sudah tidak ada harganya. Meskipun aku tahu bahwa di Indonesia ini masih ada daerah-daerah yang belum dialiri listrik tapi aku percaya bahwa harga makanan misalkan nasi campur pastilah tidak ada yang lebih murah dari 2000 rupiah untuk ukuran porsi manusia dewasa. Tapi kepercayaanku diruntuhkan oleh penuturan Ibu Aisyah dalam bahasa campuran Sunda-Indonesia suatu malam di bawah temaram lampu emergency (yeah..kali ini aku tidak akan mengeluh soal betapa menyebalkannya PLN). Malam itu beliau menceritakan sekelumit fakta tentang desanya.

Di desa Curup (atau seperti itu kurang lebih pelafalannya) hanya ada satu sekolah tingkat dasar negeri, sehingga siswanya datang dari berbagai dusun. Tidak ada siswa yang tidak diterima bersekolah disana sebab tidak ada pilihan lain. Untuk berangkat ke sekolah anak-anak menggunakan sepeda, dan cucu-cucu Ibu Aisyah sendiri harus menempuh perjalanan bersepeda selama 2 jam hanya untuk sampai ke sekolah. Setelah lulus dari SD anak laki-laki akan langsung membantu orang tua bekerja di sawah, sementara anak perempuan dinikahkan dengan mengikuti perjodohan dari orang tua. Tidak ada anak yang melanjutkan ke jenjang SMP apalagi SMA sebab memang tidak ada sekolah pada tingkatan tersebut di desa ini. Satu-satunya pilihan bagi anak perempuan adalah menerima lamaran. Sehingga tidak heran saat usia muda para wanita sudah memiliki anak, dan ketika usia mereka setara dengan usia wanita yang tinggal di kota memutuskan menikah mereka malah sudah memiliki cucu bahkan cicit.  Biasanya setelah menikah dan memiliki anak para wanita pergi bekerja ke kota Jakarta atau Bogor demi memenuhi kebutuhan keluarga. Satu-satunya lapangan pekerjaan bagi mereka adalah menjadi pembantu rumah tangga, sebab kebanyakan dari mereka masih buta huruf. Sementara sang suami tetap tinggal di desa merawat anak dan menggarap ladang.

Tenaga guru yang tersedia tidak mampu mencukupi kebutuhan pendidikan murid yang begitu banyak. Ketika hari cerah dan hampir semua murid datang dari berbagai dusun, sekolah akan penuh sesak dan mereka akan membangun tenda di luar kelas untuk menampung kelebihan siswa. Di desa ini hanya ada 3 guru tetap (dan salah satunya adalah kepala sekolah) dan 2 pegawai honorer yang diangkat menjadi pengajar begitu mereka lulus SMP di kota. Jadi jangan bayangkan mutu, untuk kuantitas saja sudah tidak memadai.

Harga barang-barang kebutuhan pokok sangatlah murah, dan hampir bisa dipastikan tidak mengikuti fluktuasi pasar Indonesia meskipun desa ini termasuk bagian dari negara Indonesia. Perekonomiannya terisolasi sebagaimana keadaan desa itu sendiri. Harga nasi campur per bungkusnya hanya Rp 700, harga beras per kilogram hanya Rp 1000. Untuk kebuutuhan seperti minyak makan warga mengolahnya sendiri dari buah kelapa, untuk kebutuhan beras mereka menanam sendiri, sayuranpun ditanam sendiri. Sedangkan ikan mereka peroleh dari kolam masing-masing. Para wanita hanya pergi ke pasar cukup 3 kali dalam setahun. Pasar yang biasa didatangi adalah pasar Tanah Abang di jakarta maupun pasar pasar di kota Bogor. Namun jangan dikira mereka berbelanja banyak barang saat di pasar, aku pun terkejut mendengar bahwa barang-barang yang dibeli hanya berupa ikan asin setidaknya 5 kg, garam  paling banyak 3 kg, dan minyak tanah beberapa liter sebab kebutuhan lainnya sudah terpenuhi dari hasil ladang mereka sendiri. Sementara barang-barang seperti pakaian dan perkakas rumah tangga mereka beli setahun sekali menjelang bulan Ramadhan sekalian untuk persiapan hari raya Idul Fitri.

Harga kambing per ekornya hanya sekitar Rp 50.000 sehingga menjelang hari raya Idul Adha tiap tahunnya berbondong-bondong warga muslim dari kota besar seperrti Jakarta dan Bogor datang ke desa untuk membeli hewan ternak dari warga. Dengan harga yang begitu murah mereka rela datang dari jauh dan menginap di sembarang tempat seperti di masjid atau balai desa demi mendapatkan hewan qurban dengan harga beli murah. Jika hewan saja bisa semurah itu bagaimana dnegan barang yang lebih sederhana? hmm...Jajanan seperti pisang goreng hanya seharga Rp 25 per 2 buah, dan aku tercengang mendengar bahwa mata uang Rp 25 benar-benar masih ada dan masih sangat berguna.

Tidak tersedianya listrik membuat mereka jauh dari yang namanya hiburan dan efek negatif pertelevisian. Budaya dalam keseharian baik dalam hal adat maupun kesopanan tetap terjaga dengan baik. Jika kita yang hidup di kota besar punya mimpi mengawang-awang soal masa depan, maka mereka -orang orang yang dipenuhi kesederhanaan ini- punya mimpi yang cukup terbatas dan tidak muluk-muluk, yaitu punya rumah,sawah dan ternak.

Saat orang-orang di kota besar tidak lagi perduli pada apa yang dilakukan para pemimpin mereka, di desa ini pemimpin adalah sebenar-benarnya panutan yang patut dipatuhi dan dihormati. Peranan kepala desa, lurah hingga bupati yang biasanya bagiku hanya terlihat ideal dari drama TV (didengarkan dan dipatuhi oleh segenap warga seantero wilayah kepemimpinannya) ternyata memang berwujud nyata di desa ini. Sebab warga butuh pegangan dan para pemimpinlah tempatnya. Jadi maklumlah jika mereka begitu menyukai kepala desa yang bisa memberikan mereka tontonan layar tancap beberapa bulan sekali, atau meletakkan televisi beberapa minggu sekali di halaman rumah agar dapat ditonton warga dengan tenaga aki.

Sebagai orang yang juga bekerja dalam bidang pendidikan tidak putus akalku berfikir tentang bagaimana mekanisme sekolah yang ada di desa itu. Bagaimana mereka dapat mendata siswa maupun guru dan menyerahkannya ke dinas terkait, sebab data adalah satu-satunya alat untuk memperoleh berbagai fasilitas seperti sarana dan prasarana, dana penunjang baik mutu pendidikan maupun kesejahteraan guru, dan berbagai fasilitas lainnya. Juga bagaimana mereka menyelenggarakan ujian serta tertib administrasi. Ah...rasanya sulit sekali masuk di akal jika aku tidak pernah merasakan sendiri hidup di tempat seperti itu.

Seandainya kisah ini adalah cermin, dengan begini bayangan apa yang terpantul dari cermin yang dihadapkan pada negeri kita ini? Bayangan betapa luasnya negeri tercinta Indonesia ini kah...atau bayangan betapa masih jauh kita dari yang namanya 'merdeka'?...
Ternyata negeri entah berantah seperti itu masih ada....


Posted at 09:54 am by Qeong-Ungu
Make a comment